Selasa, 24 Juni 2014

SURAT AN-NAS

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
 
Quran Surat An-Naas Terdiri dari 6 Ayat, Termasuk surat Makkiyah , Surat ini di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW di Mekah sebelum hijrah ke Madinah
 
 
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
(QS: An-Naas Ayat: 1)
مَلِكِ النَّاسِ
Raja manusia.
(QS: An-Naas Ayat: 2)
إِلَٰهِ النَّاسِ
Sembahan manusia.
(QS: An-Naas Ayat: 3)
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
(QS: An-Naas Ayat: 4)
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
(QS: An-Naas Ayat: 5)
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
dari (golongan) jin dan manusia.
(QS: An-Naas Ayat: 6)


Kamis, 06 Maret 2014

Adh Dhuhaa 1 – 5





Bismillaahirraḥmaaniraḥiim 
Assalamu 'alaikum warohmatullahi wabarokatuh


 
Demi Waktu Dhuhaa

وَالضُّحَىٰ
“Demi waktu dhuha.” (ayat 1).

Di ayat pertama ini Tuhan (Allah) bersumpah, tegasnya memerintahkan kita memperhatikan waktu dhuha. Waktu dhuha ialah sejak pagi setelah matahari terbit, sampai naik sampai menjelang tengahari.

Di dalam bahasa Melayu lama disebut “sepenggalah matahari naik.”
Waktu dhuha diambil persumpahan oleh Tuhan untuk menarik perhatian kita kepadanya.

Mungkin oleh karena di waktu yang demikian kita sedang lincah, kekuatan dan kesegaran masih ada berkat tidur yang nyenyak pada malamnya.

Maka di waktu Dhuha itulah kesempatan yang baik untuk berusaha di muka bumi Allah, sepanjang yang dianjurkan oleh Allah sendiri.
(Lihat Surat 67, Al-Mulk; 15).


وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ
“Demi malam, apabila dia sudah sunyi-senyap.” (ayat 2).

Sumpah peringatan atas malam apabila sudah sunyi senyap ialah memperingatkan betapa penting manusia istirahat mengambil kekuatan baru di malam hari untuk berjuang hidup lagi pada besok harinya.

Dan apabila telah masuk waktu dua pertiga malam, kira-kira sekitar pukul 3 dini hari di daerah Khatul-Istiwa ini, dianjurkan pulalah kita melakukan sembahyang tahajjud.

Sehabis sembahyang kita duduk memohon ampun kepada Ilahi atau membawa Al-Qur’an sampai waktu Subuh datang.

Sesudah Tuhan mengambil sumpah dengan waktu dhuha dan larut malam itu, barulah Tuhan menuju apa yang Dia maksudkan dengan sumpah tersebut:


مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
“Tidaklah Tuhanmu membuangmu, dan tidaklah Dia marah.” (ayat 3).

Artinya secara harfiyah “tidaklah Tuhanmu mengucapkan selamat tinggal kepadamu” sehingga engkau merasa kesepian sebab Jibril tidak akan datang lagi. Dan tidaklah Tuhan marah sehingga engkau tidak diperdulikan lagi.

Menurut tafsir Ibnu Jarir, pernah beberapa lamanya terhenti turunnya wahyu, sehingga belum ada lagi sambungan Al-Qur’an yang akan disampaikan oleh beliau SAW kepada manusia, sehingga merasa sepilah Nabi SAW.

Dan hal ini diketahui oleh kaum musyrikin, sampai mereka berkata: “Muhammad sudah diucapi selamat tinggal oleh Tuhannya dan telah dimarahi.” Yang mengatakan demikian ialah isteri Abu Lahab.

Lantaran itu datanglah ayat ini; bahwasanya persangkaan kaum musyrikin itu tidaklah benar, Tuhan tidak pernah meninggalkan Nabi-Nya dan tidak pernah marah kepadanya. Dia selalu didampingi oleh Tuhannya.

 وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ

“Dan sesungguhnya kesudahan itu, lebih baik bagimu daripada permulaan.” (ayat 4).

Janganlah berdukacita jika kadang-kadang terlambat datang wahyu itu kepadamu.

Menurut tafsiran dari Al-Qasimi: “Yang diujung pekerjaanmu ini akan lebih baik dari permulaannya.”
Artinya jika di permulaan ini kelihatan agak sendat jalannya, banyak tantangan dan perlawanan, namun akhir kelaknya engkau akan mendapat hasil yang gilang-gemilang.

Dengan ayat ini diberikanlah kepada Rasul SAW dan kepada orang yang menyambung usaha Rasul suatu tuntunan hidup, agar merasa besar hati dan besar harapan melihat zaman depan.

Meskipun perjuangan itu dimulai dengan serba kesusahan, namun pada akhirnya kelak akan didapat hasil yang baik. Dan ini bertemu dalam sejarah kebangkitan Islam.

Asal pekerjaan telah dimulai, akhir pekerjaan niscaya akan mendapati yang lebih baik daripada yang permulaan. Yang pokok ialah keteguhan niat dan azam disertai sabar dan tabah hati.


وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
“Dan sesungguhnya Tuhanmu akan memberi kepadamu, sehingga engkau ridha.”
(ayat 5).

Ayat ini pun berisi janji harapan yang disampaikan Tuhan sebagai bujukan kepada utusan-Nya yang dikasihi-Nya.

Bahwa banyaklah kurnia dan anugerah yang akan diberikan kepadanya kelak, sambil jalan dari permulaan menuju kesudahan itu, terutama anugerah ketinggian gensi dan martabat.

Kesempurnaan jiwa dan kebesaran peribadi, ilmu dunia dan akhirat, pengetahuan tentang ummat-ummat yang dahulu, kemenangan menghadapi musuh-musuh, ketinggian agama.

Dan pernaklukan beberapa negeri, baik yang terjadi di zaman beliau sendiri atau di zaman khalifah-khalifah beliau, dan akan tersebarlah agama ini ke seluruh dunia,

ke Timur dan ke Barat, yang semuanya itu akan mendatangkan ridha, atau senang bahagia dalam hati Nabi Muhammad SAW.

Itulah rentetan bujukan dan obat penawar hati bagi Nabi SAW seketika agak terlambat wahyu bersambung datang. Suatu peringatan bahwa perjalanan ini masih jauh dan kemenangan terakhir akan ada pada beliau.



Sumber :
Tafsir Al-Azhar


Senin, 17 Februari 2014

AL - AN'AM (ayat : 115)


Bismillaahirraḥmaaniraḥiim 
Assalamu 'alaikum warohmatullahi wabarokatuh








KESEMPURNAAN AYAT-AYAT ALLAH


وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
115. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendenyar lagi Maha Mengetahui.

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya.


Tentang kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Ilahi itu tidak usah diragukan lagi.
Kebenaran asli dari Dia dan keadilanpun dari Dia.
Tidak ada hakim lain dan hukum lain yang dapat melebihi itu, undang-undang yang diwahyukan Allah adalah untuk kepentingan umat manusia, bukan untuk mempertahankan kekuasaan Allah.

Sebaliknya undang-undang buatan manusia, kebenaran dan keadilan yang dikarang manusia dengan susunan kata-kata yang diperhiasi, ialah untuk kepentingan mempertahankan kedudukan golongan yang berkuasa. Undang-undang manusia dapat saja berubah kalau zaman sudah berubah, sedang syariat Illahi tak dapat dirubah oleh manusia.

Sebab itu kami sampaikan satu penegasan lagi : "Sekali-kali tidak ada pengganti dari Kalimat-kalimat Nya". Salah satu arti dari Kalimat adalah perkataan, atau Sabda. Kalimat Allah adalah Sabda Allah.
Sabda Allah tak dapat diganti dengan sabda lain.
Sebab sabda yanga lain adalah sabdanya mahkluk, sedang pengetahuan serta pengalaman mahkluk sangatlah terbatas.

Kalimat Illahi adalah mutlak untuk segala zaman.

Didalam menegakkan pendirian ini, sejak dari langkah pertama sudah mesti berterang-terang, tidak boleh bersembunyi. Kaum kafir dan munafik mungkin bersedia bekerja sama dengan orang-orang islam, asal beberapa usul mereka diterima.

Segala usulpun boleh dipertimbangkan, kecuali, ada peraturan selain peraturan Allah yang akan dijalankan. Atau ada hukum lain pengganti hukum Allah, dan mencari hakim selain hakim Allah.

dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Oleh sebab Allah senantiasa mendengar dan mengetahui apa-apa yang kita usahakan dan kita lakukan, maka kita manusiapun haruslah berusaha supaya apa tindakan yang kita ambil didalam hidup, sesuai hendaknya dengan kehendak Allah dan diridhai oleh Allah. Bertemu hendaknya taufik dan hidayah Illahi dengan apa yang kita rencanakan. Karena betapapun hebatnya kemajuan hasil pendapat manusia, namun yang mutlak benar hanyalah apa yang ditentukan oleh Allah. Yang ainnya hanyalah keraguan dan kecenderungan belaka, tidak ada yang yakin dan tidak ada yang pasti. Teori yang lama dapat dijatuhkan dengan teori yang baru.

Pendirian Yang Tegas.

Apabila seorang pejuang Muslim membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan faham akan artinya, tidak dapat tidak ayat ini pasti akan mempengaruhi sikap jiwanya. Ayat-ayat diatas tegas benar menyatakan bahwa Rasulullah s.a.w harus menyatakan terus terang bahwa dia tidak akan menerima hakim lain selain Allah.
Tidak pula menerima peraturan lain seain peraturan Allah.

Ini mengenai seluruh segi daripada kehidupan.

Maka tidaklah heran bila pejuang Islam yang bercita-cita ingin menegakkan Ayat-ayat Allah, didalam alam ini kebanyakan dibenci oleh goongan yang tidak mengenal peraturan Allah itu.
Di dalam negeri Islam sendiri, pejuang Islam dibenci dan menderita berbagai penderitaan jika dia mengemukakan keyakinan hidup, menjelaskan bahwa dia bercita-cita agar di negerinya peraturan dan undang-undang negeri harus diambil dari peraturan dan undang-undang Allah.


sumber :
Tafsir Al-Azhar


Minggu, 22 Desember 2013

Larangan Mengucapkan Selamat Kepada Para Musuh Serta Kaum Pembenci Allah.





Mengucapkan Selamat Kepada Musuh atau Pembenci Allah :

Tidak dibenarkan kita mengucapkan kata selamat, kepada para musuh atau kaum yng membenci Allah, baik itu lewat istilahnya kebersamaan atau kerukunan antar umat beragama.
Karena kalau untuk menghormati, kita hanya dibenarkan menghormati sesama muslim.

seperti Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Al Maaidah
54. Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.

(QS.48   Al-Fath ayat: 29)

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

29. Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku´ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

 (QS.15   Al-Hijr  ayat : 88)

لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.


Karena ucapan selamat sama dengan mengakui kebenaran  dan kejayaan mereka, itu dilarang. bertobatlah kepada Allah karena secara tidak langsung itu seperti murtad...

Al Baqarah 


مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ
98. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir

Al Anfaal
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
60. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

وَيَوْمَ يُحْشَرُ أَعْدَاءُ اللَّهِ إِلَى النَّارِ فَهُمْ يُوزَعُونَ
Fushshilat
19. Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan (semuanya).

ذَٰلِكَ جَزَاءُ أَعْدَاءِ اللَّهِ النَّارُ ۖ لَهُمْ فِيهَا دَارُ الْخُلْدِ ۖ جَزَاءً بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ
Fushshilat
28. Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami.
  

Takut tidak mendapatkan Pekerjaan :

sungguh tidak dibenarkan sama sekali, karenaa semua yang ada di alam jagad raya ini sepenuhnya tergantung hanya kepada Allah subhannahu wata'ala, tiada yang lebih berkuasa selain DIA, dan maha luas karunianya meliputi bumi dan langit.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Al-Baqarah
22. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا ۘ وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Al Baqarah
212. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
Al-Maidaa
88. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Yunus
31. Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah: "Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"tidak bertakwa (kepada-Nya)?"

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
Ar Ra'ad
26. Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).

Munafik

Ataukah kalian ingin menjadi kaum munafik, kalian melakukan hal-hal yang semisal dengan pra kaum Munafik

Firman Allah   :

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
Al-Baqrah :
14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka[25], mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok."

وَيَقُولُونَ طَاعَةٌ فَإِذَا بَرَزُوا مِنْ عِنْدِكَ بَيَّتَ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ غَيْرَ الَّذِي تَقُولُ ۖ وَاللَّهُ يَكْتُبُ مَا يُبَيِّتُونَ ۖ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا
An Nisaa.
81. Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: "(Kewajiban kami hanyalah) taat". Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.

Firman Allah  yang Lain :

Al-Baqrah :
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
8. Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian[22]," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Al-Baqrah :
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Al-Baqrah :
10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
Al-Baqrah :
11. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."

أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
Al-Baqrah :
12. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
Al-Baqrah :
13. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ
Al-Baqrah :
14. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok."

اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
Al-Baqrah :
15. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

(TQS. at-Taubah [9]: 123)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
123. Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orangorang yang bertakwa.

Senin, 14 Oktober 2013

AL-HAJJ (ayat : 36-37)




Bismillaahirraḥmaaniraḥiim 
Assalamu 'alaikum warohmatullahi wabarokatuh



وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ ۖ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

36. Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi´ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

 Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi´ar Allah,

Allah menyebut-nyebut nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya, bahwa Dia telah menciptakan unta untuk kepentingan mereka dan menjadikannya termasuk syi'ar-Nya.
Al Badanah diartikan unta dan sapi ini pendapat sebagian besar/mayoritas tabi'in dan sebagian sahabat.

 kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat).

Bagi kalian pada unta-unta itu terdapat banyak manfaat yang dapat kalian ambil, seperti sebagai tunggangan, pengangkut barang serta dapat kaliaan ambil susunya.
dan dapat kalian aambil dagingnya dan sebagai binatang korban yang akaan kalian aambil manfaatnya di akhirat kelak.
Sebutlah nama Tuhanmu (Allah) ketika kalian menyembelihnya, dalam keadaan berdiri dan terikat erat keempat kakinya.

Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta.

Apabila ia telah jaatuh roboh dan nyawanya telah melayang dan tidak bergerak lagi karena telah mati, maka makanlah sebagian dari dagingnya, dan berikanlah sebagiaan kepada orang-orang yang ridha dengan apa yang ada pada mereka, sedang dia tinggal dirumahnya tanpa meminta-minta, serta orang-orang yang datang meminta-minta kepada kalian agar kalian memberinya sebagian dagingnya.

Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.

Demikianlah kami telah menundukkan unta bagi kalian, sekalipun ia mempunyai tubuh yang besar serta kekuatan yang sempurna, sehingga ia tidak membangkang kepada kalian, tetapi datang dengan menundukkan diri kepada kalian untuk menyembelihnya.
Yang demikian itu agar kalian mensyukuri nikmat yang telah Kami limpahkan kepada kalian.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.

Sekali-kali Allah tidak akan menerima daging yang disedekahkan serta curahan darahnya dengan penyembelihan itumeskipun kalian telah menyembelih dengan sangat banyak.
Akaan tetapi Allah akan menerima aml shaleh yang diangkat kepada-Nya dan keikhlasan karena menghendaki keridhaan Allah Ta'ala semata.

Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.

Demikianlah Tuhan (Allah)  telah menundukkan unta itu bagi kalian, agaar kalian bersyukur kepada-Nya atas semua petunjuk yang telah diberikaan kepada kalian. Supaya kalian mengibarkaan panji-paanji agaama Allah dan melaksanakan ibadaah haji-Nya .

Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan berikanlah kabar gembira , hai Rasul, kepada orang-orang yang taat tunduk dan patuh kepada Allah semata, sehingga mereka melaksanakan ketaatan  kepada-Nya di dunia dengan baik, dengan balasn syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan kepada orang-orang yang bertaqwa.


Kamis, 10 Oktober 2013

ALI 'IMRAN (ayat : 133-135)





Bismillaahirraḥmaaniraḥiim 
Assalamu 'alaikum warohmatullahi wabarokatuh


وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi
 
Bersegeralah melakukan perbuatan yang dapat menyampaikan kepada ampunan Allah atas dosa-dosa yang telah kita lakukan, yang dapat memasukkan kalian kedalam syurga yang luasnya seluaas langit dan bumi.

Yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Dan yang oleh Alla telah menyediakaannya untuk hamba-hamba-Nya yang mau bertakwa, yaitu melaksanakan semua yang menjadi perintah-Nya, serta menjauhi  semua yang menjadi larangan-larangan-Nya.
Untuk itu, beramal baiklah, serta bertaubatlah dari perbuatan-perbuatan dosa, seperti melakukan riba' daan lain sebagainya, serta bersedekahlah kepada orang-orang yang sengsara dan yang membutuhkan pertolongan.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,  

Mereka adalah orang-orang yang menggunakan hartanya untuk dibelanjakannya di jalan Allah, baik waktu  berkecukupan maupun dalam waktu kekurangan, mereka memberikannya dengan kesungguhan hati dan keikhlasan hanya karena Allah.

orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang

Orang-orang yang mengekang dan menahan amarahnya, walaupun dia mampu untuk membalasnya, karena kekuasaan atau kekuatannya, tetapi mereka justru memaafkannya atas kesadaran hati hanya karena mengharapkan ridho Allah semata.

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. 

Allah subhanahuwata'ala sangat mencitai orang-orang yang melakukan kebajikan, dengaan melakukan perbuatan menolong orang-orang yang sengsara, serta menyantuni orang-orang miskin yang mebutuhkan, dengan sebagian nikmat yaang telah diberikan Allah sebagai rasa syukur atas limpahan karunianya.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
135. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Sebagian orang berfikir bahwa mukmin adalah orang yang tidak berdosa.
Padahal ayat ini menyebut  orang-orang bertakwa mungkin saja melakukan perbuatan buruk. Siapa saja yang berlaku buruk telah menzalimi dirinya.
Namun perbedaan orang mukmin yang berlaku buruk pada dua hal;
pertama mereka tidak melakukan terus perbuatan dosa.
Kedua, ketika menyadari perbuatan dosanya, ia segera meninggalkannya dan bertaubat kepada Allah. Karena mereka tahu Allah suka memaafkan orang yang bertaubat dan melakukan dosa akibat tidak sadar dan digoda setan.

 



Selasa, 08 Oktober 2013

YAA SIINN (ayat : 7-10)







Bismillaahirraḥmaaniraḥiim 
Assalamu 'alaikum warohmatullahi wabarokatuh
 



لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
7. Sesungguhnya telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.
Already the word has come into effect upon most of them, so they do not believe.

Orang-orang yang ingkar/kafir itu merasa diri merekalah yang terbaik dan pandai, karena kesombongan serta ketakaburannya, dengan congkaknya mereka menggedikkan kepalanya, dan mereka tidak mau menunduk atau menlirik sedikitpun akan risalah-risalah Allah didalam kitab Al-Qur'an yang telah diturunkan kepada nabi-Nya Muhammad saw. Mereka tidak mau mengimaninya dan mereka menganggap orang-orang yang memeluk agama islam dan beriman adalah orang-orang yang bodoh.

seperti dalam Firman Allah  :
Q.S2  Al-Baqarah  ayat, 2


وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.

Maka berlakulah ketentuan Allah atas mereka untuk menyiksa (mengadzab) mereka yang tetap membangkang dan ingkar setelah datangnya peringatan yang telah disampaikan oleh nabi Muhammad saw, karena mereka tetap tidak mau beriman. 

Tentang kepastian adzab ini diperkuat oleh ayat lain, 

Firman Allah :

Q.S.40  Ghafir  ayat : 6


وَكَذَٰلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ أَصْحَابُ النَّارِ
Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Tuhanmu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka.

إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ
8. Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu dileher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.
Indeed, We have put shackles on their necks, and they are to their chins, so they are with heads [kept] aloft.

Pada leher-leher mereka, Allah memasang belenggu, lalu tangan mereka (diangkat ) ke dagu, sampai mereka dibuat menengadah..... 

Maksudnya adalah sebagai balasan yang setimpal kepada orang-orang yang kafir/ingkar, karena mereka itu semasa hidupnya didunia tidak mau tunduk kepada kepada semua ketentuan serta aturan Allah, dan tidak pula mau menundukkan kepala mereka  kepada keimanan.


وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
9. Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.
And We have put before them a barrier and behind them a barrier and covered them, so they do not see.

Di hadapan mereka Allah adakan dinding (membatasi kebenaran), dan di belakang mereka juga ada dinding..... 

Dinding- dinding itu mereka sendirilah yang membuatnya untuk menutup diri dari petunjuk, mereka enggan menerima kebenaran dan tetap dalam kesesatan dan kekafiran mereka. 

Dengan demikian karena sikap mereka itu maka Allah menutup maata hati mereka sehingga tidak dapat meraih kebaikan dan tidak beroleh petunjuk kepada Islam. 

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
10. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.
And it is all the same for them whether you warn them or do not warn them - they will not believe.

Allah menegaskan bahwa bagi mereka itu sama saja, diberi peringatan ataukah tidak diberi, mereka tetap saja tidak akan beriman”. 

Allah telah mengunci mereka dalam kesesatan. 

Ayat ini telah dikupas juga pada awal surat al Baqarah. 

Bahwa ada dan tidaknya peringatan yang datang dari siapapun (dari Rasul Nabi maupun rasul Tabligh) tetap saja ingkar. 

Dalam hal ini Allah menjelaskan tentang fungsi Nabi Muhammad saw, bahwa dia hanya lah sebagai penyampai peringatan, dan tentu akan bermanfaat bagi orang-orang yang mengikutinya. 

Disini Muhammad saw sebagai Rasul Nabi yang membawa hujjah bagi umat manusia, namun mereka yang mengikutinya akan selamatlah kelak di akhirat, dan yang menolak serta membangkang maka “qaulul haq” (adzab) Allah akan tegak atas mereka karena hujjah telah sampai, dan mereka menolak. 

Orang-orang yang mengikuti beliau saw, mereka lah yang dapat mengambil manfaat dari peringatannya, dan mereka itu orang-orang beriman dan mengikuti al Qur’an yang agung, “dan yang takut kepada Tuhan (Allah) Yang Maha Pemurah walau pun dia tidak melihat-Nya. 
Maka berita gembira bagi mereka, berupa pahala yang mulia (besar) dan ampunan dari Allah atas segala dosa-dosanya yang telah lampau.

sumber :
Ust. Abu Fahmi
terjemahan
Tafsir Al Maraaghi